Perusahaan minyak raksasa Chevron harus mengeluarkan pekerja ekspatriat dari wilayah operasi migas di utara Irak setelah konflik pecah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Chevron mengikuti langkah perusahaan migas lainnya yang beroperasi di sana.

Seperti dilansir dari Reuters, Chevron menyatakan sejumlah kontingen kecil yang terdiri dari pekerja ekspatriat dan kontraktor sementara telah meninggalkan wilayah operasi migas di Kurdistan seiring memanasnya situasi di Timur Tengah.

Perusahaan migas asal AS itu memiliki wilayah operasi migas di Irak yang ditargetkan bisa memproduksi 20 ribu barel minyak per hari (bopd) pada pertengahan tahun ini. Operasi wilayah kerja tersebut dilanjutkan oleh staf lokal dan pekerja ekspatriat bakal bekerja dari jarak jauh.

Baca Juga : Defisit APBN 2019 Capai Rp 353 Triliun

Pemerintah AS pada pekan lalu telah menginstruksikan warga negaranya untuk pergi dari Iran. Hal itu disampaikan setelah serangan drone AS membunuh Komandan Militer Iran Qasem Soleimani dan Komandan Militer Irak Abu Mahdi al-Muhandis.

Masyarakat Iran pun mengibarkan bendera merah di atas kubah Masjid Jamkaran, di Kota Suci Qom, Iran dalam upacara penghormatan terhadap almarhum Qassem Soleimani.

Hal ini menandakan Iran siap membalas serangan AS. Dalam sejarah Syiah, bendera merah merupakan simbol pertumpahan darah yang tidak adil dan menjadi panggilan untuk membalaskan dendam orang yang tewas.

Pengibaran bendera merah tersebut merupakan yang pertama kali terjadi dalam sejarah Iran setelah negara tersebut bersumpah akan menuntut balas atas kematian Jenderal Soleimani. Seperti dilansir metro.co.uk, ribuan orang yang mengantarkan jenazah Soleimani ke pemakaman menggumamkan kutukan terhadap tindakan AS, Minggu (5/1).

AS menuding Soleimani merencanakan serangkaian serangan yang bisa membahayakan pasukan AS dan para diplomat di Timur Tengah. Ia juga dinilai bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan AS dan sekutunya sejak mereka melakukan invasi ke Irak pada 2003.

Pasukan elite Quds memiliki jaringan di Irak, Lebanon, Afghanistan, dan Yaman. AS menyebut Soleimani dan pasukannya sebagai teroris. Dibawah kepemipinan Soleimani, pasukan tersebut justru dinilai berjasa membantu pasukan Suriah memukul mundur ISIS pada tahun lalu. Minggu (5/1) malam, Trump mengirim tambahan 3.000 pasukan ke Kuwait untuk memperkuat keberadaan militer AS di Timur Tengah.

Sumber : www.msn.com